Isi Surat Al Maidah Ayat 51 Tafsir Dan Artinya

Surat Al Al Maidah ayat 51 – Al maidah adalah surat ke-5 dalam Alqur’an. Dalam bahasa Arab ditulis المآئدة berarti “Hidangan atau Jamuan”. Surat ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk Surat Madaniyah karena diturunkan di Madinah setelah Haji Wada’ walaupun di dalamnya ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah.

Surat ini dinamakan “Al-Madidah’ memiliki arti ‘Hidangan atau jamuan” karena di dalamnya mengisahkan tentang para pengikut nabi Isa Alaihis Salam yang meminta agar nabi Isa berdo’a kepada Allah SWT agar menurunkan makanan dari langit seperti disebutkan dalam ayat 112.

tafsir surat almaidah ayat 51

Permintaan itu sangat mengejutkan nabi karena dianggap terlalu berlebihan, kemudian nabi Isa berkata  “Bertaqwalah kepada Allah, jika kalian memang benar-benar beriman,” jawab Isa. Sebagaian ulama mengatakan, bahwa permintaan mereka karena mereka sangat membutuhkan hidangan atau makanan karena kondisi mereka yang miskin.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kaum hawariyyun tu meminta didatangkan hidangkan bermula ketika nabi Isa mendapat perintah Allah SWT agar pengikutnya berpuasa selama 30 hari. Kemudian nabi Isa memerintahkan para muridnya berpuasa. Setelah berpuasa selama 30 hari, pada hari terakhir mereka meminta imbalan atau hadiah berupa makanan yang diturunkan dari langit untuk mereka berbuka puasa

Mendengar  permintaan itu nabi Isa, bingung karena selama ini sudah banyak mukjizat yang diberikan padanya namun para pengikutnya tetap tidak percaya. Sehingga nabi Isa merasa  ragu untuk memenuhi permintaan besar kaum hawariyyun itu. Karena khawatir para pengikutnya sama dengan umat-uamat terdahulu yang meminta sesuatu yang besar kepada Allah tapi tetap saja mereka ingkar dan kafir kepada Allah SWT, lalu Isa menyuruh mereka bertaqwa kepada Allah SWT.

Namun orang-orang itu terus mendesak dan membujuk nabi Isa untuk berdo’a kepada Allah SWT dengan alasan agar hati mereka merasa tentram dan iman mereka menjadi lebih kuat. Karena terus didesak akhirnya nabi Isa menuruti keinginan mereka dan menuju tempat peribadatannya untuk memohon agar permintaan kaumnya dikabulkan.

“Ya Rabb kami, turunkanlah kepada kami sebuah hidangan dari langit, yang hari turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau. Beri rezekilah kami, dan Engkaulah sang Maha Pemberi rezeki,” pinta Al Masih.

Setelah selesai berdo’a kemudian turunlah Al maidah (makanan) itu dari langit sehingga semua kaum itu memakannya. Ajaibnya makanan itu tidak habis-habis meskipun ribuan orang menyantapnya. Bahkan mereka yang sakit setelah memakan hidangan itu langsung sembuh, mereka yang cacat menjadi normal dan banyak kebaikan yang diperoleh kaum hawariyyun setelah memakan hidangan tersebut. Kisah tersebut menjadi akhirnya diabadikan menjadi nama Surat Al Maidah.

Belakangan, surat Al Maidah tengah menjadi perbincangan semua kalangan ummat di Indonesia, setelah Gubernur DKI mengutip isi surat al maidah ayat 51 dalam sebuah pertemuan di pulau Seribu Jakarta. Pengutipan ayat itu diduga salah dalam menafsirkannya sehingga mengundang koreksi dari berbagai kalangan ummat terutama kaum muslimin di seluruh tanah air.

Bahkan akibat dari semua itu sampai menimbulkan aksi protes besar-besaran dari kalangan muslim pada 4 November 2016. Dalam aksi demonstrasi yang diikuti sekitar 100 ribua-an orang itu menuntut Sang Gubernur Basuki Cahaya Purnama ‘Ahok’ mempertanggung jawabkan apa yang diucapkan terkait surat al maidah ayat 51 tersebut.

Berikut ini adalah surat al maidah ayat 51 dan artinya surat al maidah :

isi surat al maidah ayat 51

Dalam ayat itu disebutkan tentang seorang muslim yang dilarang memilih seorang Auliya dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Pengertian kata Auliya dalam ayat tersebut sebagian ulama berbeda pendapat, ada yang mengartikan sebagai pemimpin ada juga yang mengartikan ‘teman dekat/sekutu’ dan meninggalkan ummat islam.

Dalam Al-qur’an juga ada ayat senada dengan ayat 51 surat al-maidah yaitu di dalam Surat An -Nisa ayat 144: Allah SWT berfirman :

surat senad dengan al maidah

Sebenarnya ada banyak sekali ayat-ayat dalam Al-qur’an yang berkaitan dengan larangan bagi kaum mu’minin menjadikan orang bukan kalangan mu’min sebagai auliya. Seperti : (Alqur’an Surat Al Imran: ayat 28, Al Maidah: ayat 51, Al Maidah: ayat 57, At Taubah: ayat 23, Al Mumtahanah: ayat 1, An Nisa: ayat 89, An Nisa: ayat 139, An Nisa: ayat 144, Al Maidah: ayat 81dan lain-lain ) 

Namun ada sebagian dari kalangan mu’minin berbeda pendapat terkait ayat-ayat tersebut terutama pengertian Auliya. Kata ‘Auliya’ merupakan jamak dari kata‘Wali’ yang dekat seperti kata waliyullah yang berarti yang dekat dengan Allah. Makna auliya (أَوْلِيَاءَ) bisa berarti ‘Orang kepercayaan atau khusus dan dekat’ seperti kata wali dalam pernikahan (orang yang dekat, sayang dan melindungi pada anak gadisnya) Wali murid berarti orang tua, orang yang dekat dan menyayangi anaknya.

Sebab-Sebab Turunya Ayat 51 Surat Al maidah (Asbabun Nuzul)

Sebab-sebab yang melatar belakangi turunnya ayat 51 tersebut, kalangan ulama berbeda pendapat, misalnya, menurut Al-Baghawi dalam Kitabnya Ma’alimul Tanzil fi Tafsiril Qur’an, bahwa turunnya ayat tersebut bertepatan dengan pertengkaraan dua orang bernama ‘Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay bin Salul’. Kedua orang itu berdebat berdebat tentang siapa yang pantas dijadikan pelindung bagi mereka. Sampai akhirnya pertengkaran itu didengar oleh Rasulullah SAW.

Dalam perdebatan itu Ubadah mengatakan bahwa dirinya memiliki banyak Auliya/sekutu/pelindung dari golongan Yahudi, menurutnya mereka memiliki jumlah yang banyak dan memiliki pengaruh besar. Namun Ubadah lebih memilih mengikuti Allah SAW dan Rasul-Nya, kemudian dia mengatakan bahwa tiada pelindung selain Allah dan Rasul Nya.

Sedangkan Abdullah bin Ubay memiliki pendapat lain, ia lebih memilih Yahudi sebagai tempat berlindung karena ia takut akan tertimpa musibah. Maka untuk menghindari musibah itu, menurutnya ia lebih memilih bergabung dengan mereka (Yahudi). Mendengar perkataan itu Rasulullah SAW berkata “Wahai Abul Hubab, keinginanmu tetap dalam perlindungan (kekuasaan) Yahudi adalah pilihanmu, tidak baginya’. Ia menjawab, ‘Baik, saya menerimanya’. Dari petengkaran kedua orang itu lalu turun ayat tersebut.

Menurut Al-suddi menyebutkan bahwa ayat 51 surat Al maidah diturunkan ketika terjadinya serangan yang kuat pada perang uhud. Selesai peperangan dua orang lelaki yang merasa takut mendapat siksaan. Lalu salah seorang muslim berkata, bahwa dirinya akan bergabung dengan Yahudi dan berlindung padanya, karena takut orang-orang itu menyiksa dirinya. Sedangkan salah seorang lainnya berkata, bahwa dirinya akan bergabung dengan Nasrani dari Syam dan menjadikan mereka pelindung. Dari perdebatn kedua orangitu kemudian turun ayat 51 surat Al-maidah.

Dari dua riwayat tersebut dapat dilihat bahwa turunnya ayat 51 Surat Al-maidah berbarengan dengan terjadinya konflik antara muslim dan non muslim (konflik agama). Pada kondisi seperti itu keberpihakan pada kelompok musuh dianggap sebagai penghianatan dan akan merusak keutuhan dan persatuan islam. kemudian turun ayat 51 dalam surat almaidah sebagai larangan agar kaum muslimin tidak bersekutu dengan kelompok lawan sebagai ‘Awliya’ dan tempat berlindung.

Tafsir Surat Al-maidah Ayat 51

Kalangan ulama berbeda pendapat terkait hukum seorang muslim memilih pemimpin non muslim. Sebagian ulama mengatakan ‘boleh’ ada juga yang mengatakan ‘tidak boleh’. Ulama yang membolehkan atau tidak membolehkan merujuk pada ayat dalam Alqur’an yaitu surat Al Maidah ayat 51 yang di dalamnya terdapat kata ‘Awliya’. Yang mengartikan berbeda pada kata ‘Awliya’. Ada yang yang mengartikan pemimpin

Sebagian ulama menyebut kata ‘awliya’ yang berasal dari kata ‘wali’ berarti dekat atau teman dekat. Karena saking dekatnya sampai tidak ada lagi rahasia antara mereka yang ada dalam kelompok tersebut. Ayat ini juga turun ketika terjadi konflik (perang) sehingga jika berteman dekat dengan kelompok itu (kaum musyrikin) di khawatirkan akan membuka rahasia semua hal yang dapat menghancurkan dan membahayakan umat Islam.

Jika merujuk pendapat diatas berarti mengangkat pemimpin dari kalangan non-muslim diperbolehkan dalam konteks negara Indonesia. Karena pemimpin atau pejabat di Indonesia bersifat pelaksana dari UUD 1945 dan UU turunannya sehingga tidak bisa membuat kebijakan yang bertentangan dengan peraturan dan perundang undangan yang berlaku. Selain itu pemimpin di Indonesia juga tidak memiliki kuasa penuh karena akan selalu dipatau oleh rakyat dan harus tetap ada di jalur konstitusi yang sudah disepakati wakil rakyat (DPR)

Hal senada juga disampaikan pakar tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab terkait pengertian kata ‘Auliya’ dalam surat Al Maidah ayat 51 bahwa kata tersebut bentu plural dari kata ‘wali’ yang berarti yang dekat atau teman dekat. Silahkan saksikan videonya berikut ini

Mungkin pertanyaannya, bagi kita sebagai orang awam, mana pendapat yang harus diikuti dari kedua pendapat tersebut? Apa yang membolehkan apa yang melarang? Karena dari kedua pendapat itu sama-sama memiliki alasan dan dalil yang menguatkan. Dalam Al-qur’an kita diperintahkan oleh Allah agar bertanya pada orang yang memiliki pengetahuan jika kita tidak mengetahui. Jadi pelihan yang tepat Insyallah tergantung pada keyakinan masing-masing dengan mempertimbangkan baik dan buruknya dari piliha yang kita ambil. Wallahu A’lam

Advertisement
KOMENTAR ANDA