Misteri Alas Roban Jalur Angker Di Jawa Tengah

Sejak dulu, hutan alas roban dikenal sebagai jalur transportasi paling angker di Jawa Tengah. Bahkan sebagian besar pengendara baik sopir truk, bus atau pengendara mobil pribadi menandai Alas roban sebagai jalur merah dan harus diwaspadai karena sering terjadi kecelakaan maut dan sering memakan banyak korban.

Umumnya sopir truk dan bus sudah mengetahui dan kenal dengan keangkeran jalur tersebut dan dikenal dengan nama jalur ‘Tengkorak’. Ketiak memasuki wailayah itu biasanya para pengemudi berjalan dengan kewaspadaan penuh dan berhati-hati, terlebih ketika memasuki jalan curam, terjal dan berkelok.

alas roban

Karena tidak jarang sopir yang mengalami hal-hal mistik dan sulit dicerna akal sehat. Misalnya, Ada seorang sopir truk yang memasuki jalur alas roban, pada awalnya biasa-biasa saja dan tidak merasa hal aneh terjadi, namun lama kelamaan mulai menyadari bahwa perjalanan yang ditempuhnya seolah-olah tidak pernah sampai ke tempat tujuan padahal sudah berjam-jam mengemudi.

Peristiwa seperti itu biasanya dialami sopir yang tidak mengindahkan larangan ketika memasuki wilayah tersebut, misalnya berbicara kotor, bercanda atau melakukan hal-hal yang tidak baik dan dianggap menyinggung makhluk halus penghuni alas roban. Keangkeran Alas roban sudah dipercaya sejak lama oleh masyarakat setempat. Seperti ada yang pernah melihat penampakan kuntilanak, pocong sampai genderuwo.

TEMPAT PEMBUANGAN MAYAT

Alas roban berada di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Pada tahun 80-an wilayah tersebut tepatnya di kawasan hutan jati di Plelen, Gringsing dikenal sebagai tempat pembuangan mayat-mayat korban penembak misterius (Petrus).

Sejak saat itu alas roban menjadi tempat angker dan ditakuti masyarakat setempat. Sehingga tak seorang pun berani menjamah dan melintas di kawasan tersebut terutama pada malam hari. Bahkan di tempat itu sering kecelakaan lalu lintas dan menelan banyak korban meninggal.

Pada malam hari jalur alas roban sangat gelap dan tak ada satu pun penerang jalan yang bisa ditemukan. Pohon-pohon jati tumbuh di sepanjang jalan seolah menegaskan keangkeran wilayah tersebut. Jalan yang terjal, curam dan berkelok membuat pengendara yang melalui ajalur tersebut merasa was-was.

Pengendara biasanya tidak ada yang berani melintas di malam hari. Bus atau truk akan mulai melewati jalan itu setelah subuh. Kendaraan kecil yang dari timur biasanya beristirahat dan bermalam di pasar plelen sedangkan yang dari barat bermalam di banyu putih.

Kamudian setelah subuh jelang matahari terbit, mereka mulai melanjutkan perjalanan melintasi kawasan alas roban. Jika terpaksa dan harus meneruskan perjalanan di malam hari biasanya kendaraan-kendaran itu melaju berbarengan dengan beberapa kendaraan yang lain. Sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akan lebih mudah diatasi secara bersama-sama.

Rasa takut pengendara untuk melintas di jalur alas roban bukan semata-mata karena jalur itu dikenal angker, melainkan kawasan itu telah menjadi sarang kawanan begal dan bajing loncat yang sering merampas harga milik pengendara. Bahkan para penjahat itu tidak segan-segan menghabisi korbannya jika melawan.

PEMBANGUNAN JALAN BARU ALAS ROBAN

Jika melihat sejarah, Dulunya, jalur Alas roban hanya satu-satu jalan yang bisa dilalui pengendara untuk menuju wilayah barat pulau Jawa yaitu jalan raya Poncowati. Jalan itu awalnya dibangun pada masa penjajahan Belanda oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda ke-36 bernama Jenderal Herman Willem Daendels yang memerintah pada 1808 hingga 1811.

Pembangunan jalan itu telah memakan ribuan korban meninggal dari warga pribumi karena tidak kuat dengan kerja paksa yang dilakukan siang dan malam dibawah tekanan tangan besi pemerintah Belanda kala itu.

Namun, saat ini jalur di alas roban telah terbagi menjadi tiga jalur yaitu jalur yang dimulai dari Desa Plelen. Kemudian jalur ini terbagi menjadi dua yaitu jalur asli Alas Roban terletak di bagian selatan (kiri) dan jalur utara (kanan). Sedangkan jalan lain yang berada di bagian selatan. Kedua jalur itu dibangun sekitar tahun 1990-an dan tahun 2000-an.

Seiring perjalanan waktu, cerita mistis dan keangkeran jalur Alas Roban kian terkikis dan hilang dari benak masyarakat. Jalanan sepanjang jalur alas roban sudah mulai ramai. Lampu penerang jalan banyak ditemukan diberbagai sudut. Lalu lalang kendaraan, mobil atau sepeda motor tidak pernah sepi, penjual makanan sudah mulai banyak di jumpai di sepanjang jalan.

Advertisement
KOMENTAR ANDA